Kamis, 02 Januari 2014

Orang Terpilih (Part 2)

BRUKK !
"kamu gimana sih? bisa liat ga?
"maaf bu..maaf."
"Oh..karyawan baru ya disini? pantas saja.."
Pria itu langsung pergi sehabis menabrakku. Dasar pria yang tidak bertanggung jawab. Karyawan baru seperti itu yang tidak tahu sopan santun. aahh..sudahlah, ngapain aku harus memikirkan karyawan baru itu.
"Bu berta !"
Dari kejauhan pak bos besar memanggilku.
"Iya pak, ada apa?"
"Begini bu, hari ini kita akan ada meeting penting bersama para manajer beberapa divisi mungkin setelah jam makan siang ini bu."
"oh begitu pak, siap pak. saya makan siang dulu kalo begitu pak. saya permisi dulu pak."
"silahkan."
Ahhh..rapat lagi hari ini. semangat berta! oya, aku harus cepat cepat selesaikan makan siangku ini, kalo sampai aku telat datang meeting nanti, aku bisa dimarahin bos.
"Selamat siang bapak ibu, mari kita mulai rapatnya saja yaa..tetapi sebelum memulai rapat, perkenalkan disini ada partner kita yang baru. silahkan pak perkenalkan diri."
"Selamat siang..perkenalkan sama saya Wisnu Anggara Mukti, kalian boleh memanggil saya pak Wisnu."
Lho..itu kan pria tadi yang menabrakku dan pergi begitu saja.. Teryata dia manajer divisi produksi yang baru, yah..kalo dilihat lihat ganteng juga ya. hahaha..ehhh..bertaaa! Fokus fokus..jangan memikirkan hal yang macam macam..
"Oke, sekarang kita mulai rapatnya yaa.."
***

"Bu bu..senyum dikit dong bu. jangan tegang dan kaku gitu kalo menjawab sapaan karyawan disini."
"Eh pak Wisnu, ada apa pak? Terserah saya mau senyum atau tidak.."
"Bukan gitu bu..pantas saja anda terkenal dengan sebutan IBU GALAK. hahahaha..masa lebih galak dari pak bos disini sih bu. ntar kalau kayak gitu terus ga punya temen lhooo di kantor."
Apaan sih..pagi pagi sudah bikin mood ku jelek kayak gini, bikin emosi aja.. ahh biarkan aja tu pak Wisnu mau cerewet apa. aku tinggalin pergi aja..
"Bu berta..gitu aja marah. Ntar mau makan siang bareng saya?"
"Pak Wisnu, maaf saya sibuk hari ini."
"Ayolah bu, daripada makan siang sendirian."
"Kalo sendirian, emang kenapa? saya sudah biasa sendirian."
"Yah..tidak apa apa bu, saya cuman ingin menebus kesalahan saya. Kemarin saya sudah menabrak bu berta lalu langsung pergi begitu saja, waktu itu saya lagi cepat cepat mempersiapkan meeting. Mau ya bu?"
"ahh..saya tidak bisa. saya sangat sibuk hari ini."
"ohh kalo begitu..nanti saya antar pulang."
"tidak, saya bawa mobil sendiri."
"Ya sudah, kalo begitu besok makan siang bareng saya. oke deh.."
"saya juga..."
Ya ampuuunnn ni anak, aku belum selesai bicara sudah ditinggal. Ah sudahlah kalau begitu..
***

Dari sejak saat makan siang itu, aku dekat dengan Wisnu. Tiap hari kami slalu makan siang bersama, bekerja bersama, pergi bersama setiap hari sabtu. Mulai saat itu aku merasa tidak sendirian, aku punya sahabat. Tanpa aku sadari ternyata aku mulai berubah..
"eh sejak ada pak Wisnu, bu Berta beda banget yaa..?"
"Iya, sekarang Bu Berta kalo kita sapa selalu senyum. sampai sampai kalau belum aku sapa malah disapa duluan." 
"Oya? iya sih..bener. sekarang bu Berta beda banget deh. lebih kalem, biasanya selalu marah marah kalau kita sudah melakukan kesalahan kecil. bawaannya merengut terus.."
"eh..bu berta bu berta dateng. Selamat pagi bu berta.."
"Ya selamat pagi. ayo mulai bekerja, kita tidak ada waktu untuk mengobrol hal yang tidak penting."
"siap bu.."
Itulah yang sekarang karyawan bicarakan tentang aku, aku bisa melihat dari tatapan mereka yang berbeda. Dulu mereka menatapku takut dan benci, tapi sekarang mereka menatapku tenang dan bersahabat. Aku ingat saat Wisnu mengatakan suatu hal 
Kita bukan hanya sebagai pemimpin mereka tapi kita juga harus menjadi sahabat yang siap mendengarkan keluhan mereka. Berhenti menutup dirimu untuk siapapun, karena hal itu bukannya memberikan kenyamanan tetapi malah memberikan amarah di dalam dirimu. Lihat sekelilingmu dan buatlah dunia ini senang karenamu 
Itulah kata kata yang telah menghipnotisku, bukan hanya itu sebenarnya. Tapi Wisnu perlakukan aku sebagaimana mestinya. Dia selalu tidak takut untuk mendekati aku dan dia selalu menyadarkan aku bagaimana perlakukan orang lain dengan baik.. dan sekarang aku menyadari aku bukanlah BERTA yang dulu. 







Temen temen, ini cerpen pertamaku. memang tidak begitu bagus..tapi aku butuh saran dan komentarnya ya temen temen. Terimakasih..
-SICIL-

Jumat, 27 Desember 2013

Orang Terpilih (Part 1)

Hidup sebagai orang terpilih, aku harus memulai dari hal yang baik hingga mengakhirinya dengan baik pula. Kepatuhan, disiplin, rajin, ulet itulah sifat yang perlu aku lakukan setiap hari dalam pekerjaanku. Mengapa aku sebut dengan orang terpilih? karena dari sejak kecil aku selalu mendapatkan prestasi yang tidak sedikit sampai saat ini aku terpilih dan dipercaya dalam pekerjaanku ini. Sayangnya, kelebihan yang aku miliki ini memberikan kekurangan. Ya, aku tidak punya kawan.
"Pagi bu Berta !"
Sapaan itu membuyarkan lamunanku pagi ini, saat aku berjalan menuju ruanganku. Oya aku belum perkenalkan diriku kepada kalian, namaku Berta Setia Putri. Inilah nama yang diberikan oleh orang tuaku, mereka memberikan nama tidak hanya sembarang nama. BERTA SETIA PUTRI.. berawal dari cinta dan setia kami melahirkan seorang putri. Aku bekerja di perusahaan ternama di Indonesia, dan posisiku disini sebagai ibu manajer bagian keuangan. Semua karyawan di perusahaan ini mengenalku, sapa yang tidak mengenal ibu Berta? Ya, aku terkenal sebagai ibu yang sangat disiplin. Kaku lebih tepatnya..
Tok tok..
ada seorang karyawan yang mengetuk pintuku
"Permisi Bu Berta, bolehkah saya masuk?"
"silahkan.."
"Maaf bu, begini saya..ehmm..saya.."
"Langsung saja."
"boleh saya meminjam uang perusahaan?"
"kalo aku boleh tau, buat apa?"
"begini bu, saya mempunyai hutang bank, saya tidak punya uang untuk membayarnya. kalau saya tidak membayar segera, rumah saya akan disita."
"Oh..hanya itu? saya tidak akan menyutujui nya pak. maaf..karena itu kesalahan anda."
"saya mohon bu.."
"Tidak pak, sekali tidak tetap tidak."
"kalau begitu saya permisi"
"silahkan"
Kejadian pagi ini sudah mencerminkan bagaimana aku di pekerjaan. dan itu lah yang membuat semua karyawan takut berinteraksi denganku, banyak karyawan yang di depanku baik tetapi di belakangku mereka selalu membicarakanku. Aku tidak peduli dengan hal itu.

****